MAGELANG – Universitas Muhammadiyah Magelang (Unimma) menorehkan sejarah baru dalam dunia pendidikan kesehatan. Tepat pada Kamis (8/1/2026), Unimma secara resmi membuka Program Studi (Prodi) Kedokteran Program Sarjana dan Pendidikan Profesi Dokter di bawah naungan Fakultas Kedokteran (FK) terbaru.
Langkah ini menjadi jawaban nyata atas tingginya kebutuhan tenaga medis di Indonesia. Rektor Unimma, Dr. Lilik Andriyani, S.E., M.Si., mengungkapkan bahwa pendirian FK ini merupakan buah dari perjuangan panjang selama tiga tahun. Ia menegaskan bahwa kehadiran fakultas ini bukan sekadar menambah jumlah prodi, melainkan bagian dari dakwah amar ma’ruf nahi munkar.
"Fakultas Kedokteran ini merupakan wujud ikhtiar Muhammadiyah dalam dakwah, khususnya melalui pendidikan dan kesehatan," ujar Lilik di Auditorium Unimma. Beliau menambahkan bahwa Unimma berkomitmen mencetak dokter yang tidak hanya unggul secara akademik dan profesional, tetapi juga memiliki empati sosial yang berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan.
Fokus pada Pencegahan Hipertensi
Berbeda dengan FK pada umumnya, FK Unimma memiliki keunggulan spesifik pada upaya promotif dan preventif tahap sekunder dengan konsentrasi pada kasus hipertensi. Fokus ini diambil karena hipertensi merupakan pemicu utama penyakit kardiovaskular (cardiovascular disease/CVD) yang menjadi penyebab kematian tertinggi di tingkat global maupun nasional.
Data menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai 34,1 persen. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga di Asia seperti India (28,5 persen) dan Tiongkok (26 persen). Dengan konsentrasi ini, lulusan FK Unimma diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menekan angka kematian akibat tekanan darah tinggi di masyarakat.
Dukungan Penuh Pemerintah dan Muhammadiyah
Ketua LLDIKTI Wilayah VI, Prof. Dr. Aisyah Endah Palupi, M.Pd., menyebutkan bahwa Unimma adalah perguruan tinggi swasta (PTS) ke-10 yang berhasil mendirikan FK. Syarat yang dipenuhi pun cukup berat, mulai dari akreditasi universitas yang harus "Unggul" hingga penyediaan minimal 23 dosen spesialis.
Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, yang hadir dalam acara tersebut, turut memberikan apresiasi tinggi. Menurut Menkes, Indonesia saat ini masih mengalami krisis tenaga medis. Indonesia hanya memproduksi 12.000 dokter per tahun, padahal jumlah tersebut masih jauh dari ideal.
"Kenapa rumah sakit kekurangan dokter? Karena jumlah dokter di Indonesia hanya sepertiga dari yang dibutuhkan," ungkap Menkes Budi. Beliau pun mendorong Muhammadiyah untuk terus memperluas jaringan fakultas kedokterannya hingga ke wilayah pelosok Indonesia guna pemerataan akses kesehatan.
Senada dengan Menkes, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak mencari keuntungan materi dalam membangun institusi pendidikan. Saat ini, Muhammadiyah telah memiliki 164 perguruan tinggi, di mana 24 di antaranya telah memiliki fakultas kedokteran.
"Ini bukan untuk mencari keuntungan, tapi bagaimana Muhammadiyah membangun bangsa," pungkas Haedar. (RHP)